Mengenal Aplikasi Telegram yang Ditemukan ‘Kembaran’ Messi

Sejak akhir pekan kemarin, warganet di Indonesia lagi-lagi dihebohkan dengan berita pemblokiran. Kali ini yang menjadi target pemblokiran dari pemerintah adalah platform pesan instan Telegram. Kamu pernah mendengar nama ini?

Pamor Telegram sebagai aplikasi pesan instan memang tidak terlalu besar seperti WhatsApp atau Line. Data dari Google Trends, WhatsApp merupakan aplikasi favorit yang paling banyak digunakan di Indonesia. Dari 10 aplikasi pesan instan yang populer di Indonesia, tidak ada satupun yang menyebut nama Telegram.

Telegram merupakan aplikasi buatan orang Rusia yang mulai diperkenalkan sejak 2013. Kedua pria Rusia itu adalah kakak beradik, Nikolai dan Pavel Durov, yang pernah menemukan jejaring sosial bernama VK. Di tahap awal, Nikolai menciptakan protokol MTProto yang merupakan dasar dari sistem perpesanan tersebut, sedangkan Pavel menyediakan dukungan dana dan infrastruktur bersama pendiri ketiga Telegram, Axel Neff.

Meski dibuat oleh orang Rusia, Telegram telah terdaftar di Inggris LLP dan America LLC. Sayang, Durov bersaudara tidak memberikan keterangan jelas lokasi kantor dan keberadaan mereka, dengan alasan ingin melindungi tim mereka dari ‘pengaruh yang tidak penting’ dan memproteksi pengguna mereka agar tidak dimintai datanya oleh pemerintah terkait.

Sampai Februari 2016 lalu, jumlah pengguna Telegram di seluruh dunia mencapai 100 juta yang aktif setiap bulannya. Bahkan dideteksi ada 350 ribu pengguna baru setiap harinya dengan trafik sekitar 15 miliar percakapan dikirim setiap hari.

Tiga hal yang dimiliki Telegram dan tidak ada di platform lain, yakni enkripsi yang mustahil ditembus, secret chat dan self destruct message.

Dengan Secret Chat, tidak ada pembicaraan yang disimpan di server Telegram. Semua percakapan hanya bisa dilihat di gadget dan pesan pun tidak bisa di forward ke pihak lain. Jika ingin menghilangkan jejak, di Telegram ada fitur self destruct yang akan menghancurkan pesan usai terkirim. Jikapun si penerima melakukan skrinsut chat maka akan ada pemberitahuan akan aksi tersebut.

Ilustrasi screenshot aplikasi Telegram di smartphone Ken V9

Banyak orang yang menyukai platform milik Durov ini. Bukan hanya karena penemunya yang memiliki wajah mirip pesepakbola Messi tapi juga keamanan datanya yang patut diacungi jempol. Telegram terbukti sebagai platform yang memiliki enkripsi data canggih, tidak mudah dijebol dan pantang bekerja sama dengan pemerintah. Tidak heran jika Durov memilih untuk tidak memiliki kantor tetap. Bahkan Durov dikabarkan telah keluar dari Rusia dan memutuskan untuk tinggal nomaden, dari negara satu ke negara lain, bersama dengan tim programer komputer mereka yang jumlahnya tak banyak.

Sikap yang tidak bersahabat dengan pemerintah inilah yang membuat banyak negara ingin memblokir Telegram. Tidak terkecuali Indonesia, yang mengaku akan memblokir Telegram karena banyaknya konten berisi terorisme dan radikalisme.

Aplikasi messaging ini memiliki banyak channel yang isinya bisa terdiri lebih dari 10.000 orang. Jauh berbeda dengan WhatsApp Group yang hanya bisa menampung 200 orang. Kebanyakan channel-channel itu memang berisi ajakan untuk melakukan jihad, terorisme, mengajarkan cara membuat senjata, bom dan lainnya. Jika kita melihat kumpulan skrinsut tersebut, pasti kita akan setuju dengan keputusan pemerintah yang akan memblokir Telegram.

Namun ternyata pemblokiran Telegram itu cukup ramai diprotes karena dianggap menutup keran kebebasan berpendapat. Walaupun sebenarnya tidak banyak juga yang mengenal Telegram dan menggunakannya sebagai aplikasi chat.

Kamu pakai Telegram?

No Comments

Post a Comment